Evolusi Konsep Hunian Manusia dari Masa ke Masa

CETAR MEMBAHENOL – Rumah bukanlah sekadar hunian. Sebagai tempat bernaung, rumah juga bisa dijadikan catatan sejarah kehidupan manusia. Soalnya, rumah adalah kebutuhan primer yang pastinya mengiringi setiap sendi kehidupan manusia. Maka, rupa-rupanya pun selalu berkembang seiring dengan kemajuan peradaban manusia.

The Presidents Executive Karaoke Purwokerto

cetarmembahenol.wordpress.comv-hunian-manusia-dari-masa-ke-masa-1300x500.jpg

Meski sama-sama berfungsi tempat tinggal, rumah di masa-masa lampau punya wujud yang tentunya berbeda dari rumah-rumah zaman sekarang. Nah, mau tahu bagaimana perkembangan pola hunian manusia dari masa prasejarah sampai sekarang ini? Berikut penjelasannya.

Pola Hidup Nomaden

cetarmembahenol.wordpress.com-1-nomaden-paleolitikum.jpg

Pola hidup pada masa Paleolitikum (Zaman Batu Tua) dianggap sebagai pola paling purba. Soalnya, kehidupan nomaden alias berpindah-pindah tempat, di mata masyarakat modern, adalah kehidupan yang enggak nyaman. Mereka bisa tidur di bawah naungan langit, di bawah pohon, dan sebagainya untuk hari ini lalu besok pindah. Capek juga, ‘kan, harus pindah dari satu tempat ke tempat lain?

Ini harus dilakukan oleh manusia pada zaman itu. Soalnya, mereka harus mencari tempat-tempat baru yang masih penuh dengan sumber daya pangan. Maklum, pada saat itu manusia belum mengenal yang namanya proses pembaharuan bahan pangan lewat bercocok tanam dan beternak.

cetarmembahenol.wordpress.com-nomaden-paleolitikum-berburu.jpg

Justru, kehidupan nomaden ini penting banget buat perkembangan peradaban manusia selanjutnya. Soalnya, banyak tempat baru sukses dijelajahi karena manusia pindah-pindah tempat. Mereka hidup dan berpindah-pindah secara berkelompok. Satu kelompok besar terpecah jadi kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok pindah ke arah utara, kelompok lain pindah ke selatan, dan sebagainya.

Nine Executive Spa Samarinda

Nah, bagaimanakah proses pembagian kelompok ini? Ya, cocok-cocokan aja, sama kayak lo milih kelompok buat tugas sekolah/kuliah. Lantas, manusia-manusia ini berpindah-pindah berdasarkan apa? Mereka hanya mengandalkan insting dan bantuan alam, seperti perpindahan burung-burung, arah angin, hingga konstelasi bintang-bintang. Kalau enggak nekat dan berniat mempelajari alam, manusia bisa aja udah punah dari zaman dulu. Kuat banget, ya, nenek moyang kita?

Semisedenter

cetarmembahenol.wordpress.com--semidenter-mesolitikum-abris-sous-roche.jpg

Di periode Mesolitikum, terjadilah transisi dari pola hidup nomaden ke sedenter, yaitu semisedenter. Dalam pola semisedenter, manusia udah mulai tinggal di dalam gua (abris sous roche). Namun, mereka enggak menetap lama. Periode mereka menetap di satu tempat bergantung pada ketersediaan sumber daya alam yang ada atau ancaman-ancaman seperti bencana alam dan hewan liar.

The Presidents Executive Spa Purwokerto

Di sini, manusia udah mulai mengenal pembagian tugas. Cowok-cowok berburu, sedangkan cewek-cewek mengumpulkan makanan. Oh, ya, di tahap ini, mereka masih hidup dan tinggal berkelompok. Dalam satu gua, enggak cuma ada satu keluarga atau pasangan. Soalnya, mereka enggak perlu pusing-pusing ngurusin administrasi semacam Kartu Keluarga.

Sedenter

cetarmembahenol.wordpress.com--sedenter-neolitikum.jpg

Dalam masa Neolitikum (Zaman Batu Baru), manusia udah mulai tahu cara memperbarui sumber pangan dengan cara bercocok tanam dan beternak secara sederhana. Makanya, mereka enggak perlu lagi berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di fase ini pulalah, manusia udah bisa bikin berbagai peralatan sederhana seperti tembikar.

Tempat-tempat yang biasa jadi permukiman adalah tempat-tempat yang dekat air, seperti pinggir sungai. Soalnya, tanah di sekitarnya subur, cocok untuk bertanam. Lagipula, di sungai ada berbagai macam ikan dan hewan-hewan lain yang mencari minum. Intinya, sungai atau perairan tawar lainnya adalah sumber penghidupan.

cetarmembahenol.wordpress.com-sedenter-neolitikum.jpg

Karena udah menetap dalam kurun waktu yang lama, manusia di zaman ini enggak lagi menghuni gua. Mereka udah bisa membangun rumah meski sederhana banget. Manusia juga udah makin paham cara bikin alat dan udah kenal sama yang namanya api. Makanya, konstruksi rumah mereka pun makin canggih, yakni dari bata lumpur.

S Spa Spa Plus Bali Treatments

Kelompok manusia ini udah enggak lagi tinggal bareng-bareng, melainkan satu rumah buat dua keluarga atau lebih dalam satu wilayah, mengelilingi jalan. Inilah cikal bakal kota. Satu rumah sendiri cuma terdiri dari satu ruangan. Namun, lama-lama, bentuk rumah pun berkembang dengan adanya ruang keluarga, ruang tidur, dan lain-lain.

cetarmembahenol.wordpress.comv-sedenter-neolitikum

Konsep rumah dan perkembangannya pun berbeda-beda di tiap kebudayaan. Kalau di kebudayaan Romawi dan Yunani, estetika rumah diperhatiin banget. Makanya, rumah-rumah di sana banyak ornamennya. Sementara itu, di Nusantara, terutama yang terkena pengaruh kebudayaan Hindu, letak rumahlah yang jadi fokus. Soalnya, hal itu diyakini berpengaruh pada kehidupan kita.

Abad Pertengahan—Pencerahan

cetarmembahenol.wordpress.com4-abad-pertengahan-medieval.jpg

Pada masa Pertengahan, peradaban udah semakin kompleks. Manusia di zaman itu udah mulai punya beragam kebutuhan dan kenal proses jual-beli dengan alat tukar. Mereka juga mulai memahami konsep “pekerjaan” sehingga banyak rumah terbagi atas dua bagian: bagian bawah buat kerja (menimbun dan mengolah bahan pertanian dan lain-lain) serta bagian atas buat hunian.

Memasuki zaman Pencerahan alias Renaissance, peradaban manusia jadi lebih mendekati pola kehidupan yang kita kenal sekarang. Masyarakat mulai membedakan antara tempat kerja dan rumah. Buat tempat kerja, ada bangunannya sendiri. Begitu pula rumah.

Industrialisasi

cetarmembahenol.wordpress.com5-industrialisasi.jpg

Periode ini termasuk masa yang penting banget karena cukup mengubah kehidupan manusia. Manusia lebih mengenal teknologi yang lebih rumit dengan kehadiran mesin-mesin. Banyak orang beralih dari masyarakat pertanian jadi masyarakat industri yang kerjanya di pabrik.

Enggak cuma rumah, banyak hal yang berkembang dalam kehidupan manusia. Contohnya adalah transportasi dan pola komunikasi. Berkat penemuan baja, elevator sederhana, dan alat-alat lain, rumah-rumah di masa ini pun makin kokoh dan mudah dibangun. Kita harus berterima kasih pada banyak penemu yang lahir di zaman ini. Misalnya James Watt dan mesin uapnya. Tanpa adanya mereka, zaman ini enggak akan ada dan kita mungkin enggak bisa duduk sambil baca tulisan ini di smartphone.

cetarmembahenol.wordpress.com5a-industrialisasi.jpg

Meski begitu, zaman ini bukannya sepi masalah. Justru, era inilah yang memunculkan masalah sosial yang rumit. Orang-orang bermodal punya pabrik dan punya rumah bagus di tengah kota. Sementara itu, buruh-buruh tergeser hingga pinggiran kota, tinggal di hunian-hunian kecil yang lama-lama jadi kumuh.

Di sinilah mulai ada konsep urban dan suburban. Semakin dekat dengan wilayah perkotaan dan pabrik-pabrik, rumah jadi semakin mewah dan bernilai. Sedangkan, semakin jauh, pastinya rumah semakin murah dan kumuh.

Modernisasi

cetarmembahenol.wordpress.commodernisasi.jpg

Kalau pada masa-masa sebelumnya orang kaya hanya tinggal di rumah-rumah besar dan tengah kota, lain halnya pada masa modern ini. Bentuk rumah pun beragam kayak yang udah bisa lo lihat sehari-hari. Enggak cuma rumah besar, ada juga rumah kompleks mewah, cluster, hingga apartemen. Bahkan, ada pula yang rela menghabiskan kesehariannya dalam bilik sebesar lemari pakaian.

Di kota-kota yang maju dan bidang industrinya maju, kayak Singapura, Jakarta, dan Hong Kong, makin susah menemukan rumah di atas tanah. Soalnya, jumlah penduduknya semakin banyak. Pembangunan apartemen pun jadi gila-gilaan. Yang tinggal di sana juga bukan selalu masyarakat kelas menengah ke bawah. Di Singapura dan Hong Kong, cuma orang yang bener-bener kaya banget yang tinggal di rumah dengan tanah.

cetarmembahenol.wordpress.com6a-modernisasi

Di era modern ini, enggak bisa dimungkiri bahwa manusia semakin banyak dan tempat tinggal pun semakin padat alias berdempet. Seharusnya, dalam kondisi ini, manusia lebih solid ketimbang manusia purba. Sayangnya, meskipun tempat tinggal kita makin berdekatan—lo bisa dengar suara-suara tetangga sebelah yang lagi berantem—manusia malah jadi individualis. Semakin maju teknologi, manusia semakin berpikir bahwa mereka enggak butuh orang lain secara langsung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s